REJANG LEBONG– Komitmen menjadikan limbah sebagai berkah ekonomi ditunjukkan Wakil Ketua I DPRD Rejang Lebong, Pera Hariyani, S.E., bersama Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI). Keduanya mengunjungi sentra UMKM di Desa Seguring, Kecamatan Curup Utara, Selasa (21/4/2026).
Pera bersama rombongan FPPI menyambangi langsung usaha milik Arif, pelaku UMKM yang sukses menyulap limbah plastik menjadi aneka produk anyaman bernilai jual tinggi.
Di lokasi, Pera didampingi FPPI mendorong masyarakat agar lebih masif memproduksi tas, sangkek, bakul, dan kerajinan lain berbahan dasar plastik. “Plastik ini didapatkan dari bahan limbah Bengkulu. Sungguh luar biasa ide dan gagasan yang bisa membantu masyarakat sekitar sini,” ungkap Pera di sela kunjungan.
Pera bersama FPPI menilai potensi limbah plastik di Bengkulu sangat besar. Jika dikelola tepat, limbah dapat diubah menjadi produk kreatif yang membuka lapangan kerja baru, terutama bagi ibu rumah tangga dan pemuda desa.
Pera secara khusus mengimbau agar produk UMKM ini disebarluaskan. Pesan tegas ia tujukan kepada kaum ibu. “Khusus pesannya kepada ibu agar bila berbelanja selalu menggunakan sangkek atau tas produksi anyaman lokal ini,” kata Pera.
Menurutnya, gerakan ini punya dua manfaat sekaligus. “Selain mengurangi limbah plastik yang saat ini harganya melonjak hingga 70 persen,” imbuh Pera.
Owner UMKM, Arif, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Waka I DPRD dan FPPI di tempat usahanya. Kunjungan tersebut, kata dia, menjadi penyemangat sekaligus penguat jejaring pemasaran produk anyaman.
“Usaha ini berawal dari bentuk kepedulian pada masyarakat sekitar agar memperoleh penghasilan tambahan,” ujar Arif.
Saat ini, usaha pengelolaan limbah milik Arif mampu menyerap 10 hingga 15 tenaga kerja setiap harinya. Kapasitas produksinya mencapai 20 jenis anyaman per hari, mulai dari bakul, tas, sangkek, hingga suvenir lain.
Sistem kerja di sana dibagi berdasarkan keahlian masing-masing. “Dari sepuluh orang ada peran khusus, seperti tukang potong plastik dan penganyam dasar, sesuai keahliannya,” jelas Arif.
Ia menekankan, usaha anyaman dari limbah ini hanya bisa berjalan dengan kerja sama tim yang solid. Prosesnya berantai, mulai dari pengumpulan bahan baku, pemilahan, pemotongan, penganyaman, finishing, hingga pemasaran.
“Ke depan, Arif menargetkan usahanya terus berkembang dengan jangkauan pasar yang lebih luas. Semoga makin banyak warga yang terbantu dan jumlah tenaga kerja yang diserap bisa bertambah,” harapnya.
Kunjungan Waka I DPRD Rejang Lebong bersama FPPI ke Desa Seguring menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan dan penguatan UMKM berbasis lingkungan dapat berjalan beriringan. Limbah yang kerap jadi masalah, di tangan warga Seguring justru berubah menjadi berkah ekonomi.(***)
