Kamis, Juni 4, 2026

Jembatan Gantung Garuda Rampung 100%, Warga Dwi Tunggal Sambut Harapan Baru ‎

- Advertisement -

‎REJANG LEBONG– Setelah dinanti bertahun-tahun, Jembatan Gantung Garuda di Kelurahan Dwi Tunggal akhirnya rampung 100%, Selasa, 19 Mei 2026. Sorak gembira pecah begitu palang pembatas dibuka. Warga yang dulu harus memutar jauh dan melewati jalur licin kini bisa melintas dengan aman dalam hitungan menit.

‎Jembatan ini adalah salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto yang dikerjakan di wilayah Kodim 0409/Rejang Lebong. Proses pembangunannya dilakukan bertahap dan teliti, memastikan konstruksi kuat dan aman untuk puluhan tahun ke depan.

‎Selama pengerjaan, pemandangan personel TNI bercampur warga mengangkat besi, merakit kabel sling, dan mengecor pondasi jadi rutinitas harian. Tak ada jarak antara tentara dan masyarakat.

Dandim 0409/RL Letkol Inf Agung Lewis Oktorada menyebut semangat itu yang membuat target selesai tepat waktu.

“Pembangunan Jembatan Gantung Garuda adalah bentuk nyata kepedulian pemerintah terhadap kebutuhan masyarakat. Kami kerjakan bersama warga, bukan untuk warga. Karena kalau dikerjakan bersama, rasa memiliki dan tanggung jawab untuk menjaganya juga ikut tumbuh,” ujar Dandim saat meninjau lokasi.

‎Warga pun mengaku antusias sejak hari pertama. “Ini bukan jembatan biasa. Ini penghubung hidup kami. Dulu kalau hujan, anak-anak tidak berani lewat. Sekarang mau bawa hasil kebun, antar anak sekolah, semua jadi tenang,” kata Budianto (48), warga RT 03 Kelurahan Dwi Tunggal.

‎Dengan panjang 72 meterdan lebar  1,2 meter, jembatan ini langsung menyambungkan Kelurahan Dwi Tunggal dengan Desa Rimbo Recap. Manfaatnya menyentuh sekitar 541 kepala keluarga atau lebih dari 1.040 jiwa.

 Anak-anak tidak lagi menyeberang jalur curam dan licin saat hujan. Waktu tempuh ke sekolah terpangkas hampir 40 menit.(photo dok ist)
Anak-anak tidak lagi menyeberang jalur curam dan licin saat hujan. Waktu tempuh ke sekolah terpangkas hampir 40 menit.(photo dok ist)

Dampaknya terasa langsung pada tiga kelompok utama:
‎1. Pelajar: Anak-anak tidak lagi menyeberang jalur curam dan licin saat hujan. Waktu tempuh ke sekolah terpangkas hampir 40 menit.
‎2. Petani: Hasil kebun kopi, sayur, dan buah bisa diangkut langsung tanpa ongkos angkut mahal.
‎3. Warga umum: Akses ke puskesmas, pasar, dan kantor kelurahan jadi lebih cepat dan aman.

‎“Dulu biaya angkut satu karung kopi sampai Rp25 ribu karena harus pakai ojek jalan kaki. Sekarang bisa lewat motor langsung. Ongkos turun, untung naik,” jelas Sariani (41), petani kopi.

Selain mempermudah mobilitas, jembatan ini diyakini memangkas biaya logistik pertanian. Dengan akses yang lancar, harga jual di tingkat petani berpotensi lebih baik karena tidak lagi tergerus biaya angkut.

‎Agung Lewis Oktorada berharap jembatan ini menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi lokal. “Kami ingin jembatan ini jadi penghubung harapan baru. Bukan hanya mobilitas orang dan barang, tapi juga mobilitas ekonomi dan kesejahteraan warga Rejang Lebong,” tegasnya.

‎Bagi warga Dwi Tunggal, nama “GARUDA” yang disematkan pada jembatan terasa pas. “Garuda itu simbol kekuatan dan harapan. Sekarang kami merasa harapan itu sudah benar-benar menyeberang ke kampung kami,” tutup Ibu Siti (55), sambil menggandeng cucunya melintasi jembatan untuk pertama kali.(RED)

READ  Kodim 0409 Rejang Lebong Komitmen Dukung Cetak Sawah Rakyat Bengkulu
RELATED ARTICLES

Most Popular