Kamis, Juni 4, 2026

Aroma Kemenyan Pembuka HUT Curup ke-146, Kedurei Sudut Hidupkan Jejak Leluhur

- Advertisement -

REJANG LEBONG – Suara doa adat menggema pelan, diselingi wangi kemenyan yang menembus udara sore. Di halaman rumah dinas bupati, prosesi sakral Kedurei Sudut resmi membuka rangkaian Hari Ulang Tahun Kota Curup ke-146, Sabtu 23 Mei 2026 pukul 16.00 WIB.

Ritual warisan leluhur masyarakat Rejang ini berlangsung khidmat. Bukan sekadar seremoni pembuka, Kedurei Sudut menjadi penanda bahwa perayaan HUT tahun ini diletakkan di atas fondasi adat yang kuat.

Penyucian dan Restu Adat untuk Pemimpin

Prosesi dipimpin Ketua Badan Musyawarah Adat Rejang Lebong terpilih, Ir. Ahmad Faizir, MM, dengan tata cara adat dipandu piawang adat Syafri.

Di hadapan jajaran pemerintah dan tokoh adat, Plt Bupati Rejang Lebong Dr. H. Hendri, SSTP, MSi menjadi pusat ritual. Percikan air setawar sedingin diteteskan ke kepala, tangan, dan kaki Hendri sebagai simbol penyucian diri, keselamatan, dan restu adat. Dilanjutkan penyematan selendang songket di bahu, prosesi berlangsung penuh wibawa.

Momen itu membuat Hendri terdiam sejenak.
“Saya merasa sangat terharu dengan prosesi adat ini. Saya sampai merinding. Sudah lama sekali saya tidak mencium aroma kemenyan. Dulu nenek saya sering melaksanakan prosesi ini,” ujarnya dengan suara bergetar.

Bagi Hendri, Kedurei Sudut lebih dari pembuka acara. “Ini pengingat bahwa identitas masyarakat Rejang Lebong berakar kuat pada nilai adat dan budaya. Melalui Kedurei Sudut ini kita mempererat silaturahmi, meluruskan niat dan menyatukan langkah untuk membangun daerah,” katanya.

Ia menegaskan tema HUT ke-146: “Bersama Kita Lestarikan Budaya, Wujudkan Rejang Lebong Bahagia dan Istimewa”. Pemkab, lanjutnya, berkomitmen mendukung pelestarian budaya lewat penguatan kelembagaan adat, fasilitasi kegiatan budaya, hingga pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Jejak Pangeran Egok Kembali Disebut

Yang membuat prosesi makin berkesan, Ketua BMA Ahmad Faizir mengumumkan garis keturunan Plt Bupati.

“Plt Bupati Dr. H. Hendri, merupakan keturunan dari Pangeran Egok bergelar Pangeran Mangku Negeri yang memerintah wilayah Sindang Kelingi dan Lembak,” ungkap Faizir.

READ  Pera Hariyani: Lestarikan Budaya Lokal, Angkat Martabat Rejang Lebong

BMA bahkan berencana menganugerahkan gelar adat kepada Hendri dan istri pada Agustus atau Desember 2026 mendatang.

Nama Pangeran Egok memang besar dalam sejarah Rejang. Lahir dengan nama Kafidin bin Bun pada abad ke-19, ia adalah Pesirah yang memimpin wilayah luas dari Sindang Kelingi hingga Binduriang.

Ia dikenal sebagai pemimpin kharismatik yang menyatukan hukum adat Rejang dengan nilai-nilai Islam. Pusat pemerintahannya berada di Kampung Jeruk, kini kawasan Kampung VIII, Kepala Curup. Filosofi Batu Tri Sakti yang ia tegakkan menjadi simbol hukum adat, agama, pemerintahan, dan norma kesusilaan. Pangeran Egok wafat sekitar 1954 dalam usia lanjut, dan kepemimpinannya dilanjutkan keturunan sebelum beralih ke sistem pemerintahan modern.

Makna Spiritual di Balik Sembilan Air dan Tiga Ayam Sila

Piawang adat Syafri menjelaskan, Kedurei Sudut bukan ritual sembarangan. Perlengkapan adat yang digunakan sarat makna: tiga ayam sila – ayam biring, ayam hitam kumbang, dan ayam tiga ragi, empat macam bubur, sirih, rokok, telur ayam, serta ruas bambu gaing berisi air kelapa.

Yang paling istimewa, ritual ini menggunakan sembilan jenis air yang diambil dari sembilan sungai berbeda di Rejang Lebong: Air Dendan, Air Simpang, Air Musi, Air Putih, Air Tenong, Air Pikat, Air Lang, Air Duku, dan Air Susup.

“Kita berharap melalui Kedurei Sudut ini seluruh rangkaian HUT Kota Curup ke-146 dapat berjalan aman, lancar, dan membawa keberkahan bagi masyarakat Rejang Lebong,” ujar Syafri.

Prosesi ditutup dengan santap bersama seluruh tamu undangan, tokoh adat, dan masyarakat yang hadir. Aroma kemenyan mungkin perlahan memudar, tapi pesan Kedurei Sudut jelas: membangun Rejang Lebong tidak bisa lepas dari akar budayanya.(RED-02)

 

 

Sumber:MCRL

RELATED ARTICLES

Most Popular