‎Viral Duel Siswi SMPN 22 RL Gegara Celana Kotor ‎

Editor: Arpis Donalta

‎REJANG LEBONG– Dunia pendidikan kembali tercoreng. Video duel dua siswi SMPN 22 Rejang Lebong viral di media sosial, Minggu (3/5/2026). Pemicunya sepele: celana pinjaman dikembalikan dalam keadaan bernoda.

‎Insiden terjadi sekitar pukul 10.00 WIB di lingkungan SMPN 22 Rejang Lebong, Desa Air Pikat, Kecamatan Bermani Ulu. Dua siswi kelas 9 yang terlibat berinisial SCP, 14 tahun, dan SM, 14 tahun, keduanya warga Desa Pagar Gunung.

‎Perselisihan bermula dari pesan WhatsApp. SCP mengirim chat: “Ngapo celano ambo keno noda?” lalu dibalas SM: “Kalu dak senang, ambo ganti!”. Bukannya selesai, keduanya justru sepakat duel satu lawan satu di sekolah.

‎Kapolsek Bermani Ulu Iptu R. Pasaribu, SH., MH mengatakan pihaknya langsung ke TKP setelah mendapat laporan perangkat desa. “Pada hari Minggu, 3 Mei 2026 sekira pukul 12.00 WIB, Bhabinkamtibmas dihubungi perangkat Desa Air Pikat bahwa telah terjadi perkelahian anak di SMPN 22 Rejang Lebong,” ungkapnya.

‎Ironis, saat duel berlangsung sejumlah teman justru merekam dengan ponsel, meski ada juga yang berupaya melerai.

‎Video itu kemudian viral dan menuai keprihatinan publik. Saksi di TKP antara lain Whd, 16 tahun, Enj, 14 tahun, Dnd, 15 tahun, dan Lor, 14 tahun, semua pelajar SMP warga Desa Sukarami.

‎Usai dilerai, keluarga kedua siswi membawa mereka berobat ke RSUD Curup lalu melapor ke Polsek Bermani Ulu. Polisi bergerak cepat: mendatangi TKP, memeriksa pelaku dan saksi, mengumpulkan bukti, serta memanggil orang tua dari siswa yang merekam perkelahian.

‎Langkah cepat itu berujung mediasi Minggu malam pukul 21.00 WIB di rumah Sekdes Air Pikat. Mediasi dipimpin Kapolsek Bermani Ulu, dihadiri Bhabinkamtibmas, piket Reskrim, perangkat desa, dan orang tua kedua belah pihak.

READ  Jelang Ujian Sekolah 18 Mei, SMPN 4 Rejang Lebong Krisis Guru Olahraga, Hanya Sisa 3 Honorer

‎Hasilnya, kasus diselesaikan damai. “Orang tua kedua pelaku sepakat menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan. Kedua belah pihak tidak saling menuntut dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut,” jelas Iptu R. Pasaribu.

‎Biaya pengobatan ditanggung bersama. Anak dan orang tua yang merekam, membiarkan, maupun menyaksikan juga menyampaikan permintaan maaf dan ikut berdamai.

‎Kasus ini menjadi tamparan bagi dunia pendidikan. Masalah sepele ditambah medsos bisa viral dan mencoreng nama sekolah. Peran guru, orang tua, dan literasi digital pelajar kini jadi sorotan.(RED)

Print: