REJANG LEBONG– Kabar lega untuk ribuan ibu di Rejang Lebong, Lebong, dan Kepahiang.
RSUD Curup resmi memulai pembangunan Pediatric Intensive Care Unit atau PICU dan Neonatal Intensive Care Unit atau NICU. Dana Alokasi Khusus Rp2,8 miliar dari pemerintah pusat telah dikucurkan.
Ini titik balik. Tak akan ada lagi cerita bayi prematur seberat 1,4 kg atau anak syok DBD harus dirujuk 2 jam ke RS M Yunus Bengkulu. Jika tuntas, RSUD Curup resmi naik kelas jadi rumah sakit rujukan penanganan intensif bayi dan anak se- Rejang Lebong dan sekitarnya.
Plt Direktur RSUD Rejang Lebong, Nova Friska Elianti, M.Kes, menegaskan proyek ini tak main-main. “Fasilitas ini bukan hanya menambah ruangan, tetapi harus benar-benar memenuhi standar pelayanan intensif sesuai regulasi yang berlaku,” tegasnya, Senin 11/5/2026.
Sebab satu kesalahan kecil taruhannya nyawa. “Satu ventilator salah pasang, satu monitor gagal kalibrasi, bisa fatal,” tambah Nova.
Karena itu, RSUD tak buru-buru tancap pondasi. “Saat ini rencana pembangunan masih berada pada tahap perencanaan teknis. Fasilitas perawatan intensif memerlukan perencanaan yang matang karena berkaitan langsung dengan standar keselamatan pasien serta kelengkapan peralatan medis,” jelas Nova.
Dua unit ini punya medan tempur berbeda. “Unit NICU nantinya diperuntukkan bagi bayi baru lahir yang membutuhkan perawatan intensif, seperti bayi prematur atau bayi dengan kondisi medis tertentu,” kata Nova.
Bayi lahir usia 7 bulan dengan berat 1,4 kg? Masuk NICU. Bayi biru karena gagal napas? NICU. Inkubator, ventilator khusus neonatus, CPAP, hingga total parenteral nutrition disiapkan.
Sementara itu, PICU akan digunakan untuk merawat anak-anak dengan kondisi kritis yang memerlukan pemantauan ketat dan dukungan alat medis khusus.
Anak syok karena demam berdarah, anak trauma kepala akibat kecelakaan, anak gagal napas karena pneumonia berat, semua masuk PICU. Bedside monitor, ventilator anak, hingga defibrillator pediatrik disiagakan 24 jam.
Selama ini, Rejang Lebong, Lebong, dan Kepahiang bergantung ke RS M Yunus Bengkulu. Waktu tempuh 2-3 jam lewat Liku Sembilan jadi taruhan nyawa.
Keberadaan kedua fasilitas tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas penanganan medis, sehingga proses diagnosis dan perawatan pasien bayi maupun anak dapat dilakukan lebih cepat dan optimal.
Selain itu, fasilitas ini juga diproyeksikan memperkuat peran RSUD Curup sebagai rumah sakit rujukan di wilayah Rejang Lebong dan sekitarnya.
Artinya, golden hour pasien anak kini bisa diselamatkan di Curup. Tak perlu lagi kejar-kejaran dengan maut di tikungan Liku Sembilan.
Nova merinci, Rp2,8 miliar DAK itu untuk ekosistem intensif lengkap. “Pembangunan dua unit perawatan intensif itu akan mencakup ruang perawatan khusus, sarana pendukung, serta instalasi peralatan medis yang disesuaikan dengan standar Kementerian Kesehatan,” jelas Nova.
Mulai dari dinding berlapis anti-bakteri, sistem tata udara HEPA filter, central monitor,di nurse station, ventilator bayi, inkubator, infusion pump, sampai defibrillator anak. “Semua harus lolos sertifikasi Kemenkes,” tegasnya.
Meski dikejar tahun anggaran 2026, RSUD Curup menolak asal jadi. “Manajemen rumah sakit menargetkan pembangunan PICU dan NICU dapat rampung dalam tahun anggaran yang sama. Meski waktu pengerjaan relatif terbatas, pihak rumah sakit memastikan kualitas bangunan serta instalasi peralatan medis tetap menjadi prioritas utama,” ujar Nova. Sebab prinsipnya jelas. Satu nyawa bayi Rejang Lebong dan sekitarnya lebih berharga dari deadline proyek.
Dari Curup untuk Indonesia, saat negara hadir lewat DAK Rp2,8 miliar, RSUD Curup bersiap jadi benteng pertama penyelamat nyawa anak-anak Rejang Lebong dan sekitarnya.(RED-08)






